“MELASTI,” SIMBOL PENYUCIAN ALAM SEMESTA

“MELASTI,” SIMBOL PENYUCIAN ALAM SEMESTA

Menjelang Hari Raya Nyepi, sebagian besar umat Hindu di Bali melaksanakan upacara Melis, Mekiyis atau melasti yang masih merupakan rangkaian upacara Nyepi. Dikatakan, upacara itu dilaksanakan oleh sebagian besar umat Hindu dan bukan seluruhnya, karena memang tradisi melis atau mekiyis ini sendiri tidak dilaksanakan secara serentak. Semuanya disesuaikan dengan adat tradisi yang berkembang dimasing-masing daerah. Sementara umat Hindu yang ada di belahan Selatan Pulau Bali seperti Badung, Denpasar dan Gianyar, melasti lebih banyak dilaksanakan 3 hari sebelum Nyepi.

Mulai pagi sampai sore hari dipastikan pantai-pantai yang ada di tiga daerah ini akan dipenuhi oleh ribuan umat Hindu yang ngiring sesuhunan masing-masing. Selama ini dilingkungan umat Hindu, harus diakui masih banyak terjadi ketidaktepatan atau kurang mendalamnya pemahaman mengenai apa makna sesungguhnya dari upacara melasti ini. Sama dengan perayaan hari raya Hindu lainnya, umat nampaknya lebih banyak tersita waktunya kepada kesibukan untuk menyiapkan dan melaksanakan ritual daripada mencoba melakukan perenungan atas apa makna di balik ritual itu sendiri.

Menurut Drs. I Ketut Wiana, di kalangan umat Hindu sampai saat ini masih menyebut melasti hanya semata-mata sebatas upacara memandikan pretima atau simbol-simbol sakral belaka. Sesungguhnya, kata Wiana, sebagai rangkaian Hari Raya Nyepi, melasti memiliki makna yang sangat luas dan mendalam. Dalam lontar Aji Swamandala disebutkan; ”Melasti Ngarania prawatek Dewata anganyutaken laraning jagat, papa klesa, letuhing bhuwana”. Kalimat ini mengandung arti bahwa melasti dimaksudkan untuk menghayutkan penderitaan masyarakat (laraning jagat), meghilangkan penderitaan (papa klesa) dan kekotoran alam semesta (letuhing bhuwana). Hal ini diwujudkan dengan ngiring simbol-simbol sakral ke sumber-sumber mata air seperti laut, sungai atau danau. Sementara itu didalam Lontar Sunarigama disebutkan mengenai tujuan melasti yakni “amet sarining amertha kamandalu ring telenging segara” yang artinya mengambil sari-sari kehidupan ditengah samudra.

Upacara melasti dilakukan oleh kelompok umat yang memiliki sungsungan pura. Simbol-simbol sakral seperti pretima atau pecanangan dari para dewata manifestasi Tuhan dipuja di suatu pura tersebut berkumpul dan di-stana-kan di Bale Agung Pura Desa adat bersangkutan. Pada saat yang telah ditentukan secara berpawai atau di Bali disebut mapeed, semua simbol-simbol sakral diusung menuju sumber air seperti laut, sungai maupun danau. Di sumber air itulah upacara puncak melasti dilangsungkan yang intinya berupa upacara menghaturkan Bhakti pada Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Baruna dan terakhir nunas tirta wangsuhpada sebagai simbol tirta Amerta Kamandalu yang didapatkan di tengah segara. Inilah inti dari upacara melasti yang memiliki makna lebih mendalam untuk mengarahkan manusia agar selalu mengembangkan keinginan-keinginan yang didasari hati yang mulia. Semua itu tidak lepas dari keberadaan tirta Kamandalu sebagai air suci untuk memenuhi keinginan yang mulia.

Upacara mapeed dalam melasti ini sendiri sesungguhnya memiliki makna tersendiri yakni menyucikan secara spiritual lingkungan desa tersebut. Penyucian ini dilakukan dengan menghadirkan pretima dan simbol-simbol suci lainnya. Kehadiran pretima ini diyakini menghadirkan vibrasi spiritual kepada umat disekitarnya. Terkait dengan hal ini, mungkin ada fenomena menarik yang terjadi dalam kurun waktu belakangan pada beberapa desa adat dimana mapeed dalam melasti tidak lagi terjadi. Untuk menuju pantai sebagai tempat melasti, umat ngiring sesuhunannya dengan menggunakan kendaraan truk. Berbagai alasan melatarbelakangi berubahnya tradisi ini. Mulai karena lokasi pantai yang dituju cukup jauh kalau ditempuh dengan jalan kaki, sampai dengan alasan kemacetan yang diakibatkan karena mapeed ini.

Sehari setelah melasti, disebut nyejer, dimana pretima atau pecanangan Ida Bathara sebagai manifestasi Ida Sanghyang Widhi Wasa melinggih di Pura Desa, Bale Agung atau pura masing-masing. Nyejer berasal dari kata jejer yang artinya tegak tak tergoyahkan. Dalam rangkaian Nyejer ini sesungguhnya umat diajarkan untuk membangun sradha dan Bhakti yang tangguh atau jejer pada Tuhan. Dengan rasa Ketuhanan yang tangguh itu manusia akan diberikan kekuatan untuk mengendalikan hidupnya sehari-hari yang sering dihadang berbagai godaan. Kalau keyakinan pada Tuhan demikian tegak dan teguhnya maka godaan demi godaan akan dapat diatasi dengan baik dan benar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s