Karakter itu penting !!

Lima Syarat Pendidikan Karakter

Liputan6.com, Jakarta: Tidak sedikit para pengamat yang menilai bahwa carut-marutnya negeri ini akibat pemimpin negeri yang tidak memiliki karakter. Lantas bagaimana membangun pemimpin yang berkarakter melalui pendidikan? Menurut pakar pendidikan, Arief Rahman, ada lima syarat pendidikan karakter.

Pertama adalah pendidikan karakter kepada Tuhan. Nilai-nilai religius harus ada pada seorang pemimpin. “Jadi bukan hanya wawasan umum dan intelektual, tapi ada nilai-nilai religi juga harus dimiliki,” ujar Arief dalam acara Studi Apresiasi Kepemimpinan Siswa Teladan Indonesia (Sakti) SMP Labschool Cibubur di Markas Komando Latihan Kostrad Sanggabuana, Mekar Buana, Karawang, Jawa Barat, baru-baru ini.

Kedua, lanjut Arief, pendidikan karakter kepada diri sendiri. Sadar akan tanggungjawab diri sendiri dan mengerti apa yang dibutuhkan untuk dirinya sendiri. “Ketiga, pendidikan karakter kepada keluarga. Bagaimana kita menghormati orangtua, meski kadang orangtua itu salah.”

Yang keempat, menurut Arief, adalah pendidikan karakter kepada masyarakat. Sebagai manusia yang hidup berdampingan dengan orang lain, tentu harus saling bekerjasama, saling menghormati, tenggang rasa. “Harus saling menolong dengan sesama,” ujar guru besar Universitas Negeri Jakarta itu.

Kemudian yang terakhir, lanjut Arief, adalah pendidikan karakter kepada alam di sekitanya. Menurut Arief, manusia itu hidup di antara alam. Karena itu manusia harus memelihara dan menjaga kelestarian alam. “Kita harus pelajari alam itu. Kita manfaatkan, tetapi jaga kelestarianya, jangan hanya memanfaatkan alam tapi malah merusak,” tandasnya.

Lebih lanjut Arief menjelaskan, pendidikan karakter yang baik tidak dapat dilakukan dengan cara mengajar, tetapi mendidik. Karena pendidikan karakter bukan ilmu, namun proses membangun watak terhadap kebiasaan. “Dan kebisaan itu harus dialami. Setiap jenjang harus diberi pengalaman-pengalaman yang baik. Pendidikan karakter harus ada teladan. Karakter itu harus teruji saat dilematis,” ujar kakek enam cucu itu.

Menanggapi soal pendidikan melalui cara ala militer yang identik dengan kedisiplinan yang tinggi, menurut Arif, kedisiplinan itu baik dalam pendidikan anak. Namun jangan sampai menerapkan sanksi-sanksi yang sifatnya menjadi dendam kepada anak-anak itu sendiri. “Untuk menjadi baik, kadang manusia itu awalnya harus dipaksa dengan aturan. Tapi harus tetap seimbang, ada kalanya membutuhkan intermezo yang bernilai, tidak hampa,” ujar Arief menambahkan.(ULF)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s